Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘1. Belajar Ngomong’ Category

Yes ! Senang rasanya, lama gag buka dan update postingan di wordpress eh ada yang baru pada dasbornya. Keren ! Seluncur-seluncur bentaran, eh tambah asik, ada kelebihan pada kemudahan yang ditambahkan salah satunya tentang mengelolah komentar, tulisan dan yang lainnya. Sehingga lebih kersan di depan monitor.

Sayangnya, ada sayangnya ne! Koq nambah lemot ya? Mudah-mudah karena koneksi net ku aja de…

Viva wordpress…:)

Read Full Post »

Seberapa penting ya Authority Technoraty ? Terus teras saya kurang tahu. Meski kurang tahu, tetap saya ikut buat account disana. Nah,mungkin ada yang tahu tentang manfaat dari Authority Technoraty buat suatu Blog? Apakah mempengaruhi Blog kita bisa ter-index oleh Yahoo? Dan mungkin ga’, authority itu levelnya menurun?

Read Full Post »

Film Fitna

The fuck guySebenarnya males mau ngomongin tentang yang satu ini, tapi semakin hari semakin marak saja dibicarakan. Jadinya pengen ngomong juga tentang film fitna (tanpa “H”).

Banyak juga yang panas, ada yang juga yang adem ayem…bukannya sok bijak lho. Dari tayangan TV dan kolom di koran, si pembuat film ini di tuntut oleh rekannya karena mencatut namanya yang akhirnya kebawa-bawa dalam kasus ini. Biarinlah mereka ribut-ribut. Kita jadi penonton saja, untuk itu kita kaum muslim yang merasa dirugikan atau di diskreditkan atau apa aja bahasanya oleh film itu, marilah kita tunjukkan bahwa umat muslim berjiwa besar. Untuk yang teriak-teriak dan membakar sesuatu di depan konsulat Belanda dengan meneriakkan yel-yel yang menghujat dan menginginkan di putusnya hubungan internasional untuk segera berfikir ulang. Kita memang marah, kita memang sakit dan kita memang harus berjihad…tapi ada cara lain koq, yang bisa menunjukkan identitas kita sebagai muslim.

Jangan buat si pembuat film tersenyum geli melihat tingkah kita, jangan buat agama lain mencibir melihat ulah kita dan jangan sampai mereka berifikiran bahwa panutan kita adalah rasul yang salah.Jangan…! Mari kita tunjukkan muslim tidak seperti itu. Ayo kita bangkit, Indonesia mayoritas muslim, jangan buat Indonesia semakin sakit karena kita….

 i forgive you

Read Full Post »

Ini adalah pengalaman saya saat bekerja di salah satu hotel ternama di kota Malang Jawa Timur. Saat itu saya merasa menimbah ilmu begitu banyak disana, bukan hanya tentang pekerjaan-pekerjaan besar, tapi pekerjaan-pekerjaan kecil seperti pekerjaan rumah yang tiap hari kita lakukan di rumah.Adalah si “Jo” kami memanggilnya, orangnya item, kecil, kurus, gondrong, serta clometan dan yang parah…dia bujang lapuk..(heheh…sori pren), yaitu coordinator saya, dia adalah tamatan STM di kota Malang. Dia seorang kordinator yang tertib dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, dan setelah saya pelajari selama 1 tahun (waktu itu tahun 2002) ternyata rumusnya adalah begitu sederhana. Dia begitu santai dalam menyelesaikan dan mendelegasikan tugas ke semua stafnya, perlu diketahui..bahwa stafnya terdiri dari berbagai tamatan…ada yang cuma SMP ada pula yang Sarjana..termasuk saya tentunya. Yang kesemua stafnya adalah bukan dari disiplin ilmu sesuai skup pekerjaan saat itu…oh iya…saat itu kami ada di salah satu divisi yaitu M & E (mechanical & electrical)…namun skup pekerjaan kami bukan hanya mengenai listrik dan mesin doank……..ternyata tentang building/bangunan hotel pula.

Dari SDM dengan basic ilmu yang ga’ ada hubungan dengan pekerjaan yang ditangani, ternyata bisa menyelesaikan hampir keseluruhan trouble aktivitas hotel, mulai dari memperbaiki AC, Boiler, mesin Blender yang ga mo muter sampe engsel pintu yang bunyi “kriyek-kriyek” bisa ditangani.

Ternyata rumus sederhana nya begini :

1. Sebelum pulang, dia mencatat semua pekerjaan di whiteboard, baik yang belum selesai hari itu maupun rencana besoknya.

Tujuannya :

1. untuk pekerjaan yang belum selesai, adalah agar di follow up dan diselesaikan shift berikutnya.
2. Pekerjaan baru adalah untuk diselesaikan petugas dengan dasar time schedule maintenance (overall alat2 dan bangunan)
1. Setelah menyelesaikan suatu pekerjaan, dia mencatat secara detail penyelesaian proses pekerjaan tersebut. Baik yang rampung maupun yang ga’. Dari tanggal dimulai pekerjaan sampe tanggal selesai pekerjaan, jenis kerusakan alat/mesin/bangunan (misalnya), cara penyelesaian, nama (jenis/tipe/dll) sparepart/bahan yang diganti, nama toko penjual sparepart dan harganya….semua begitu detail.
2. Dan kegiatan mencatat semua hasil pekerjaan tersebut harus dilakukan oleh semua staff tanpa kecuali. Untuk itu semua staff harus mempunyai buku yang kami sebut “daily report” dan ga’ tanggung-tanggung…buku itu setiap saat bisa di cek oleh pemilik hotel sendiri…minimal RM (residence manager)…Arghhhhhhh….!!!
3. Buku Daily Report itu berisi semua kegiatan masing-masing staff dari jam ke jam. Misal masuk pukul 7.00 WIB dan melaksanakan suatu pekerjaan pukul 8.30 WIB….harus dicatat kedalam buku tersebut…sampai jam pulang. Ternyata dari buku ini bisa digunakan untuk control seorang staff dalam bekerja….jadi ga ada menit-menit yang terbuang sia-sia….so…perusahaan bayar kita juga ga rugi…
4. Satu lagi..ada yang namanya “Buku Pintar” yang berisi “Riwayat Mesin dan Riwayat Gedung (Kamar)”. Yang didalamnya berisi catatan kondisi suatu mesin atau gedung. Misal kamar nomor 211, di dapati kondisi cat dinding kusam atau rusak…kita tinggal melihat buku riwayat gedung untuk kamar nomor 211…disitu telah tercantum….nama merk cat, tipe/nomor cat, toko penjual dan harga cat saat itu dibeli…sampe tukang cat waktu itu juga dicatat. Bukan hanya itu…..jumlah lampu di kamar tersebut juga ada hitungannya, merk lampu sampe besar watt lampu….sampe handle closet juga ada. Dan buku ini yang mencatat adalah sekertaris dengan cara eksport catatan-catatan staff melalui buku daily report tadi.
5. Rumus yang terakhir dan yang ga’ bisa ditawar-tawar adalah…..”komunikasi jalan dan kudu KOMPAK…….MEN!!” dari shift satu ke shift yang lain..

Otre…???!!! MERDEKA…!!!!!!

Read Full Post »

Kita “hanya” :

1. pengen gaji yang lebih tinggi,
2. program dana perawatan kesehatan yang lebih baik dan,
3. perhargaan yang lebih besar dari atasannya…………

Itu saja. !!!!!?????

Masa sie…??

Begini, sebuah keputusan yang membuat kita setia terhadap perusahaan salah satunya adalah ketentuan mengenai perawatan kesehatan. Sebuah parameter ?……..?? Ga’ tau juga yach…..Tapi menurut saya, program benefit yang berkaitan dengan perawatan kesehatan secara menyeluruh merupakan satu dari tiga alasan pokok bagi kita untuk setia dengan perusahaan tempat kita bekerja.

Berdasarkan survei, pemenuhan kebutuhan akan perawatan kesehatan secara menyeluruh juga merupakan benefit yang diinginkan oleh karyawan, melebihi gaji yang kompetitif.
Nah…untuk itu, alangkah baiknya sebuah perusahaan menjaga usaha meretensi karyawan-karyawan berkualitas yang dimiliki, karena ini penting bagi sebuah organisasi untuk mempertimbangkan memberlakukan benefit tersebut diatas untuk diimplementasikan dalam lingkungan kerja sebagai sebuah perubahan.
Jika perusahaan terpaksa mengurangi kompensasi total yang diberikan, saya kira kita lebih memilih gaji atau pun tunjangan pensiun yang dipotong ketimbang benefit-benefit untuk perawatan kesehatan.

Nyang ềni…garis bawahi yach…
Saya yakin diantara kita banyak yang merasa sangat tidak puas dengan pekerjaan kita selama ini. Yang mungkin, baik secara aktif maupun pasif, masih terus mencari tempat baru untuk pindah kerja.

Bener gaaakkkk…hayooooo ngaku..?! ☺

Selain ềntu, program benefit perusahaan merupakan salah satu pendorong utama kepuasan karyawan, dan pada gilirannya mendongkrak tingkat retensi.
Disamping terpenuhinya kebutuhan sebuah perawatan kesehatan, kita juga perlu suatu gaji yang kompetitif, program bonus yang bagus dan benefit lain seperti fleksibilitas jam kerja (dengan prioritas seperti yang kita inginkan). Benefit lain adalah akses pada dana pensiun dan reimbursement.

Eh….ternyata, berdasarkan sebuah survey… bahwa di antara karyawan yang telah bekerja ≥5, lebih dari ¼ mengaku merasa dihargai dan mempertimbangkan hal itu sebagai alasan utama untuk tetap bertahan di perusahaan tempat mereka bekerja.
Hampir 1/5 dari yang bekerja di bawah lima tahun mengundurkan diri dari perusahaan karena merasa tidak dihargai.

Dan lagi…”diperlakukan dengan penuh penghargaan oleh atasan” sebagai faktor yang bisa meningkatkan kepuasaan kita dalam sebuah lingkungan kerja yang bisa dibilang kondusif.
Omongan dari mulut dari ….Economic Policy Institute yang bernama ….Jared Bernstein. (…konon ni orang paman aqiuu…wekekekek)

“Pimpinan perusahaan yang menyadari dan merespon adanya kebutuhan-kebutuhan tersebut akan mendapatkan timbal-balik berupa hubungan karyawan yang lebih kuat dan SDM yang lebih berdedikasi…”
Jadi, dari 3 alasan tersebut diatas apa memang sudah kita nikmati ?
Ato….apa yang membuat kita bertahan slama ini….?

Yang ini bisa buat acuan…

1. base salary …….(sudahkah…?)
2. stress level ……..(memangkah…?)
3. kesempatan untuk mengembangkan karir pribadi….(what’s level…?)
>>

Read Full Post »

Melanjutkan tulisan saya tentang “Alasan Karyawan Betah di Perusahaan” lalu, berikut ini saya coba tulis tentang system penggajian perusahaan, yang menitik beratkan perlu ga’nya kita untuk mengetahui.
Kadang pernah terbersit dalam fikiran kita “Sudah adilkah perusahaan terhadap kita soal Gaji?” Nah, disini perlu adanya bahasan yang lebih mengenai hal ini. Sistem penggajian yang baik adalah yang memperhatikan dan mempertimbangkan keseimbangan internal & eksternal.
Adakalanya karyawan baru mendapat gaji lebih tinggi dibandingkan dengan karyawan lama karena sebuah alasan karyawan tersebut mempunyai pengalaman kerja di luar negeri atau perusahaan yang lebih besar sebelum masuk. Hal ini dapat membuat sebuah perasaaan iri dan membuat keseimbangan internal perlu diperhatikan.
Turnover karyawan yang rendah di sebuah perusahaan tidak dapat dijadikan patokan sebagai system penggajian yang baik , karena betahnya seorang (sebagian)di perusahaan mempunyai berbagai alasan, bisa jadi tidak adanya karyawan yang keluar (resignation) karena memang tidak/belum adanya pilihan lain. Jangan salah…! Ini perlu di adakan sebuah Salary Survey …yaitu guna menjaga keseimbangan eksternal.
Karena sistem penggajian yang baik tidak hanya akan memotivasi karyawan, melainkan juga merupakan salah satu faktor penting terciptanya suasana kerja yang kondusif, yang pada gilirannya akan menjaga kelangsungan hidup perusahaan.
Sebuah indikator yang benar adalah ketika sekelompok karyawan yang masuk pada saat yang sama, tiga tahun kemudian gaji mereka sudah berbeda kalau memang kinerja mereka tidak sama,, kalau setelah misalnya tiga tahun gaji masih sama, berarti ada yang salah dalam sistem penggajian.
Hal lain, adalah promosi. Promosi merupakan bagian dari elemen sistem penggajian yang baik. Karena karyawan yang dipromosikan harus mendapatkan “kenaikan gaji yang lebih” dibandingkan dengan kenaikan gaji tahunan.
Bukan diberikan tanggungjawab lebih dan kerjaan tambahan tapi gaji cuma dijanjikan saja, kalau ga’ di tagih belaga’ lupa…..wekekekekeke…!!!???
Mungkin saatnya kita mulai menerapkan sistem penggajian berdasarkan kompetensi. Yang memang sudah saatnya kita menghargai kompetensi karyawan lebih dari sekedar masa kerja. Tapi, harus benar-benar ada uji kompetensi lho…….!! Dan bukan yang menguji pura-pura sudah berkompeten.
Tentang variable-variabel yang mempengaruhi system penggajian saya coba singgung pula disini……meski (ato memang) saya ga’ ngerti.

1. Menurut Anda…apa gaji bukan yang Utama?

Bisa salah, bisa benar jika Anda menjawab bukan.
Jika berbicara mengenai program perusahaan tentang retensi karyawan kita bisa menjawab Gaji bukan yang utama, namun jika kita bicara tentang kesejahteraan dan rasa Aman?
Uang dan tunjangan tunai bisa membeli kebahagiaan, bisa setuju bisa ga’ sih..!
Concern utama bagi karyawan, adalah kompensasi, termasuk di dalamnya, gaji, tunjangan kesehatan dan dana pensiun.
Siapa sih yang ga’ pengen ; punya cukup duit buat biayai gaya hidup yang saya inginkan. dan punya gaji tinggi biar bisa nabung untuk hari tua sekaligus bersenang-senang di masa sekarang , Bener ga’..?

2. Kenaikan gaji berdasarkan ??
a. Besaran inflasi, ato
b. Based performance

Wadoh yang mana yach? Ga’ tau….mungkin tinggal melihat di level mana yang mau di retensi ato attack oleh perusahaan. Kalo berdasarkan tingkat inflasi yaaa….. berat buat yang level rendah, karena kenaikan gaji 10% buat level rendah berbeda sekali dengan 10% buat level top management. Misal kenaikan 10 % gaji pegawai dengan gaji Rp.1.500.000 pasti berbeda dengan kenaikan gaji pegawai dengan gaji Rp. 100.000.000 (level top management). Kalo based performance jelas mungkin.
3. Sistem gaji mempunyai kriteria : (intinya : harus merangsang karyawan untuk bekerja dengan penuh motivasi, dan memenuhi asas keadilan)

a. Mampu menekan angka turnover karyawan sampai ke titik terendah.
b. Menarik calon-calon karyawan untuk melamar.
c. Seimbang dengan perkembangan perusahaan.
d. Ada aturan main yang jelas bagi jenjang promosi
e. Menghargai kompetensi karyawan.
f. Tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

dari berbagai sumber.

Read Full Post »